Ponpes Wali Barokah Kediri Hadiri Bimtek Perpustakaan Khusus Disperpusip Jatim 2025
Surabaya (17/11). Pengurus Ponpes Wali Barokah Kediri menghadiri undangan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur (Disperpusip Jatim) dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Perpustakaan Khusus Tahun 2025. Acara yang diselenggarakan secara terbatas dan diikuti oleh 50 perwakilan perpustakaan dari pondok pesantren (ponpes) dan masjid, bertempat di Hotel Aria Centra, pada Senin dan Selasa 17-18 November 2025.
Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong percepatan penerapan Standar Nasional Perpustakaan (SNP) dan meningkatkan peran perpustakaan sebagai agen pencerdasan bangsa dan penguatan moderasi beragama.
Kepala Disperpusip Jatim, Ir. Tiat S. Suwardi, menyoroti pentingnya redefinisi peran perpustakaan. Menurutnya, literasi bukan hanya sekadar membaca, melainkan usaha memahami dan memanfaatkan semua indra.
“Perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, tetapi harus menjadi pusat untuk mencerdaskan bangsa, belajar, mengembangkan keterampilan, hingga mempelajari budaya Jawa Timur,” jelasnya.
Menurutnya, meskipun banyak perpustakaan di Jawa Timur, hanya 50 perpustakaan yang diundang dalam Bimtek, ia berharap semangat literasi menyebar.
“Kami berharap, peserta yang jumlahnya hanya terbatas ini bisa memanfaatkan kegiatan ini dengan baik. Kami memperkenalkan program layanan online Disperpusip Jatim, LARON, yang dapat dimanfaatkan masyarakat setiap hari Kamis,” ungkapnya.
Selain itu, Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan Disperpusip Jatim, Adi Wiyanto, dalam pemaparannya menyampaikan bahwa Bimtek ini merupakan upaya Disperpusip Jatim untuk membina seluruh perpustakaan di Jawa Timur.
“Tujuan utama Bimtek ini adalah memberikan informasi yang komprehensif terkait perpustakaan khusus. Harapannya, setelah acara ini, seluruh perpustakaan yang hadir dapat segera menargetkan diri untuk memenuhi Standar Nasional Perpustakaan,” ujarnya.
Ia secara khusus mendorong pengelola perpustakaan Pondok Pesantren dan perpustakaan khusus lainnya untuk mulai mencapai target akreditasi. “Tidak harus langsung meraih peringkat A, namun yang terpenting adalah berani memulai proses akreditasi dan konsisten dalam mempertahankan kualitas layanan,” tambahnya.
Pengurus Ponpes Wali Barokah yang ikut hadir, Mohammad Irsyadudin Nasrulloh, yang juga kader muda LDII Kota Kediri memberi apresiasi kegiatan yang diadakan oleh Disperpusip Jatim.
“Sudah tepat kegiatan ini dilaksanakan sebagai peran vital perpustakaan dalam melaksanakan amanah Pancasila, yaitu mencerdaskan bangsa,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa perpustakaan masjid dan pesantren memiliki fungsi ganda, yaitu mencerdaskan bangsa sekaligus membangun kehidupan rahmatan lil’alamin karena adanya fungsi dakwah.
“Literasi dan dakwah tidak bisa dipisahkan, sebab seseorang berdakwah harus sesuai dengan literasi. Tanpa adanya literasi yang valid, seseorang seenaknya sendiri dalam berdakwah,” ungkapnya.
Menanggapi fenomena functionally illiteracy (bisa membaca tapi tidak memahami yang dibaca) yang dialami 55% bangsa Indonesia menurut Bank Dunia, ia menekankan bahwa perpustakaan harus menjadi rumah budaya yang menumbuhkan nalar kritis.
“Di era derasnya arus informasi dan tersedianya kecerdasan buatan (AI), perpustakaan harus menjadi benteng agar masyarakat, khususnya generasi muda, supaya tidak mudah menelan informasi secara mentah,” tegasnya.
“Semoga lewat kegiatan ini, perpustakaan pesantren dan masjid segera cepat bertransformasi menjadi perpustakaan yang berstandar nasional, ikut menguatkan literasi, dan menjadi pusat informasi yang mencerdaskan masyarakat,” tutupnya.
