LDII Ikuti Rukyatul Hilal di Bandung, Cuaca Mendung Hambat Pengamatan
BANDUNG — Tim Rukyatul Hilal Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Kabupaten Bandung turut ambil bagian dalam pemantauan hilal untuk penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah. Kegiatan ini digelar pada Kamis (19/3/2026) di Observatorium Al Biruni Universitas Islam Bandung (UNISBA).
Pemantauan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari perwakilan Kementerian Agama Republik Indonesia, ahli astronomi, akademisi, hingga organisasi kemasyarakatan Islam. Lokasi Observatorium Al Biruni menjadi salah satu titik strategis pengamatan hilal di Jawa Barat.
Perwakilan Tim Rukyatul Hilal DPD LDII Kabupaten Bandung, Muhammad Yusuf, mengatakan bahwa secara nasional terdapat sekitar 133 titik pemantauan hilal. UNISBA menjadi salah satu titik penting di wilayah Jawa Barat.
“Kami mewakili Tim Rukyatul Hilal DPD LDII Kabupaten Bandung turut berpartisipasi dalam kegiatan ini,” ujar Yusuf di lokasi.
Namun, proses pengamatan tidak berjalan optimal. Yusuf menjelaskan, kondisi cuaca saat rukyatul hilal berlangsung kurang mendukung karena langit tertutup awan.
“Pada 19 Maret ini, kondisi langit cukup tertutup awan sehingga pengamatan hilal sedikit terhalang,” jelasnya.
Kondisi tersebut berdampak pada visibilitas hilal yang tidak maksimal saat pemantauan menjelang matahari terbenam.
Kegiatan ini juga dipantau langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, H. Dudu Rohman. Ia menyebutkan terdapat sejumlah titik pengamatan hilal di Jawa Barat, termasuk di UNISBA, yang melibatkan berbagai organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan LDII.
“Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah Ramadan. Hasil rukyatul hilal ini akan dilaporkan ke pemerintah pusat dan kita menunggu keputusan sidang isbat,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, DPD LDII Kabupaten Bandung mengirimkan tiga orang pengamat hilal dari Bidang Pendidikan Agama dan Dakwah, yakni Muhammad Yusuf, Ustaz Abdulloh Faqih, dan Kiki Fahd Baihaqi.
Pemantauan dilakukan menggunakan teleskop serta metode observasi langsung menjelang matahari terbenam. Seluruh tim bekerja secara kolaboratif guna memastikan hasil yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin sinergi antara pemerintah, akademisi, dan organisasi masyarakat dalam penentuan awal bulan Hijriah, sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya rukyatul hilal.
