Kegiatan LDII

Prinsip Karisma Nurul Aini: Jadikan Ibadah Pondasi, Raih Prestasi Tanpa Batasi Potensi

Jatinangor – Banyak anggapan bahwa aktif di kegiatan keagamaan atau menjadi “anak masjid” dapat membatasi ruang gerak remaja untuk berprestasi di bidang akademik maupun non-akademik. Namun, anggapan tersebut dipatahkan oleh Karisma Nurul Aini, seorang remaja inspiratif asal Garut yang berhasil membuktikan bahwa ketaatan beragama dan prestasi gemilang bisa berjalan beriringan.

Karisma, yang baru saja lulus dari SMA Negeri 1 Garut dan akan melanjutkan studi ke Politeknik Negeri Bandung (Polban) jurusan Administrasi Bisnis, memiliki deretan prestasi yang mentereng. Ia merupakan Juara 1 Duta Genre (Generasi Berencana) Kabupaten Garut 2024 dan akan mewakili Jawa Barat ke tingkat selanjutnya. Tak hanya itu, ia juga pernah menyabet Juara 3 Lomba Debat Hukum Nasional di Universitas Parahyangan serta masuk dalam jajaran Top 10 MC Protokol Jawa Barat.

“Bagi aku, pengalaman itu mahal banget dan tidak bisa dibeli. Proses menjalani organisasi dan kompetisi itulah yang paling berkesan,” ujar Karisma dalam podcast 3 Talk Review and Inspiration di channel YouTube LDII Jawa Barat.

Ibadah sebagai Pondasi, Bukan Pilihan Di tengah kesibukannya sebagai Ketua Forum Anak Daerah Kabupaten Garut, Karisma tetap memprioritaskan mengaji dan ibadah. Baginya, memilih antara prestasi atau agama adalah kekeliruan. Ia menegaskan bahwa agama seharusnya menjadi landasan dalam setiap aktivitas.

“Antara berprestasi dan ibadah itu bukan suatu pilihan, tapi hal yang harus dijalani bersamaan. Jangan jadikan kesibukan alasan melupakan ibadah. Ketika kita mengejar akhirat, maka dunia akan mengikuti,” tegasnya.

Karisma percaya bahwa setiap potensi yang dimiliki manusia adalah titipan dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan dengan cara diasah dan dimaksimalkan.

Advokasi untuk Remaja Sebagai Duta Genre, Karisma membawa misi penting bagi kesehatan reproduksi remaja. Melalui program Triad KRR, ia aktif mengedukasi rekan sebaya untuk menjauhi tiga risiko utama: seks bebas, pernikahan dini, dan penyalahgunaan narkoba (NAPZA).

Ia bahkan mengembangkan model pembelajaran digital terkait self-efficacy (keyakinan diri) bagi remaja agar mampu mengendalikan diri dari kenakalan remaja. Menurutnya, banyak remaja melakukan kesalahan bukan karena tidak tahu risikonya, melainkan karena kurangnya keyakinan diri untuk menolak pengaruh negatif.

Pesan untuk Generasi Muda Menanggapi fenomena remaja yang sering merasa burn out atau minder karena tertinggal dari orang lain, Karisma memberikan pesan menyentuh. Ia mengibaratkan hidup seperti bunga yang memiliki waktu mekar masing-masing.

“Jangan pernah merasa tertinggal ketika belum mendapatkan prestasi. Hidup itu ibarat bunga, setiap orang punya waktu mekarnya sendiri-sendiri. Jangan tunda masa muda dengan hal yang tidak bermanfaat,” tutupnya.

Kini, selain bersiap menjadi mahasiswa, Karisma juga tengah fokus mempersiapkan diri untuk ajang Duta Genre tingkat Provinsi Jawa Barat, sembari membantu bisnis konveksi milik orang tuanya.

Link Youtube KLIK